News

  • Home
  • Anak
  • Mitos Seputar ADHD, Benar atau Tidak ya?

Mitos Seputar ADHD, Benar atau Tidak ya?

“Anak ADHD itu akibat kebanyakan makan manis!”

Pernah dengar? Itu adalah salah satu mitos yang umum tentang Attention Deficit and Hyperactivity Disorder (ADHD). Benar atau nggak ya?

Berikut adalah mitos dan fakta seputar ADHD:

Mitos #1

“ADHD itu akibat salah didikan orangtua!”

Fakta:

ADHD adalah kondisi akibat masalah dalam perkembangan otak anak. Jadi, ADHD adalah suatu kondisi medis yang lebih dari sekedar “orangtua yang tidak tegas mendidik” atau “anak yang kurang disiplin”. Faktanya, ketika orangtua memaksakan didikan yang lebih tegas untuk anak dengan ADHD, gejala yang terjadi tidak menghilang dan malah bisa memburuk.

Meski demikian, salah satu terapi dalam mengatasi ADHD adalah terapi perilaku, termasuk di dalamnya adalah teknik untuk merespons anak ADHD dengan baik. Dengan melakukan terapi perilaku, diharapkan bisa membentuk pola perilaku anak yang lebih adaptif seiring perkembangannya.

Mitos #2

“Cuma anak laki-laki yang bisa mengalami ADHD”

Fakta:

ADHD bisa terjadi pada anak laki-laki maupun perempuan, meskipun hasil survey memang menunjukkan bahwa kondisi ini dua kali lebih sering ditemukan pada anak laki-laki. Penelitian juga menunjukkan bahwa ada perbedaan pola gejala pada anak laki-laki dan perempuan.

Umumnya, ADHD dengan jenis hiperaktif lebih sering ditemukan pada anak laki-laki, sedangkan ADHD dengan jenis inatensi (sulit fokus) lebih umum ditemukan pada anak perempuan. Selain itu, kondisi hiperaktif pun bisa berbeda antar jenis kelamin. Misalnya, anak laki-laki mungkin lebih banyak dikeluhkan terlalu aktif hingga memanjat dan merusak barang, sedangkan anak perempuan kadang dikeluhkan lebih mudah marah. Meskipun berbeda, keduanya menungjukkan gejala impulsivitas pada ADHD, yaitu cenderung beraksi tanpa berpikir panjang.  

Mitos #3

“Kalau dibawa ke psikiater, anak ADHD pasti langsung dikasih obat!”

Fakta:

Walaupun hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi obat salah satu cara paling efektif menangani ADHD pada sekitar 80% anak, tapi obat bukanlah satu-satunya. Terapi perilaku (behavioral therapy) dan terapi kognitif perilaku (CBT) adalah cara lain untuk menangani ADHD, disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan anak. Salah satu terapi terbaru berteknologi tinggi adalah terapi neurofeedback atau latihan otak.

Kapan dokter memberikan obat pada anak dengan ADHD? Nah, Ketika psikiater menilai bahwa seorang anak membutuhkan tatalaksana yang lebih cepat, tentunya psikiater menawarkan obat dengan tujuan untuk memperbaiki keluhannya. Obat yang dipilih pun akan disesuaikan dengan usia agar memberikan efek terapi maksimal dan efek samping minimal.

Mitos #4:

“Obat ADHD bikin ketergantungan, sekalinya berhenti langsung kambuh lagi!”

Fakta:

Ini adalah salah satu mitos yang umum didengar sehingga membuat orangtua khawatir memberikan obat pada anak.

Penelitian menunjukkan bahwa pemberian obat ADHD tidak menimbulkan ketergantungan selama diberikan sesuai dosis yang tepat.

Perlu diingat bahwa pengobatan ADHD (baik dengan obat maupun terapi perilaku) memang membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga tidak bisa memberikan efek instan. Inilah akibatnya bila pengobatan belum cukup adekuat dan terapi dihentikan, dapat terjadi kekambuhan lagi.

Alasan pengobatan dilakukan jangka panjang adalah untuk menjaga agar kekambuhan tidak terjadi. Penelitian menunjukkan bahwa apabila terapi ADHD dilakukan rutin maka angka kekambuhan di masa yang akan datang akan jauh lebih kecil.

Mitos #5:

“Anak bisa jadi ADHD karena dikasih makan manis!”

Fakta:

Ada banyak penelitian yang mengkaitkan antara asupan makanan dan ADHD. Ada beberapa bukti yang menyatakan bahwa komponen gula dan zat tambahan pada makanan (pewarna, pengawet) menjadi pemicu timbulnya gejala hiperaktivitas pada ADHD. Meski demikian, tidak ada bukti kuat yang mengatakan ADHD disebabkan karena makanan manis. 

Ingat, ADHD bukan hanya sekedar hiperaktivitas saja. ADHD adalah kondisi perilaku yang lebih kompleks! Maka, ada baiknya menghindari makanan yang mungkin memicu kondisi hiperaktif pada anak, tapi bukan berarti dengan menghentikannya maka ADHD akan sembuh.

Mitos #6:

“ADHD akan sembuh sendiri pas anaknya udah gede”

Fakta:

Sekitar 30-70% anak dengan ADHD akan terus memiliki kondisi ini sampai dewasa. Meskipun beberapa anak mungkin mengalami gejala yang lebih ringan, sebagian lain akan mengalami gejala yang menetap hingga remaja dan dewasa. Pada dewasa, ADHD mungkin timbul dalam bentuk sulit konsentrasi, sulit fokus, serta impulsivitas (melakukan tindakan tanpa berpikir panjang).

Nah, itulah mitos seputar ADHD yang mungkin pernah kamu dengar. Dengan memahami ini, semoga kita bisa lebih mengerti anak dengan ADHD dan menangani mereka dengan lebih baik lagi.

Untuk konsultasi lebih lanjut dengan psikiater atau psikolog, hubungi kami di Smart Mind Center RS Gading Pluit.

(dr Andreas Kurniawan, SpKJ)