News

Mengenal NYERI

Setiap orang pasti pernah mengalami rasa nyeri dalam hidupnya. Rasa nyeri merupakan ‘alarm’ yang secara natural muncul pada manusia untuk menyampaikan pesan bahwa ada sesuatu yang tidak benar dengan tubuh kita. Tapi, apakah kita sudah mengenal nyeri secara benar?

Nyeri dapat didefinisikan sebagai suatu pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial. Rasa nyeri pun dapat timbul akibat beberapa hal, antara lain:

  • Kerusakan jaringan yang diakibatkan oleh cedera/trauma atau peradangan
  • Stimulasi dari saraf nyeri
  • Tingkat sensitivitas pusat nyeri di otak.

Klasifikasi nyeri dapat dibagi berdasarkan jenis atau lama waktunya. Berdasarkan jenisnya, nyeri dapat dibagi menjadi:

  1. Nyeri Nosiseptif, merupakan nyeri yang disebabkan karena adanya kerusakan pada jaringan
  2. Nyeri Neuropatik, adalah nyeri yang timbul akibat adanya rangsangan pada saraf yang rusak atau terjadi disfungsi pada saraf akibat penyakit lain seperti diabetes melitus, herpes zoster (cacar api), atau HNP (herniated nucleus pulposus – saraf terjepit).
  3. Nyeri Psikogenik, timbulnya rasa nyeri yang berkaitan dengan masalah psikologis.

 

Berdasarkan waktunya, nyeri dapat dibedakan menjadi nyeri akut dan nyeri kronik.

NYERI AKUT:

  • Biasanya terjadi setelah tubuh mengalami cedera
  • Berlangsung sejak terjadi cedera hingga -/+ 7 hari
  • Skala nyeri: ringan – berat
  • Pengobatan untuk menghilangkan nyeri dapat diberikan secara cepat

NYERI KRONIK:

  • Berlangsung terus-menerus/hilang timbul selama periode waktu tertentu meskipun penyebabnya sudah tidak ada.
  • Berlangsung selama >6 bulan
  • Dapat menurunkan kesejahteraan, tingkat fungsi, dan kualitas hidup pasien

 

Nah, rasa nyeri ternyata juga berkaitan erat dengan masalah emosi loh!

Kok bisa? Tentu bisa dong, karena mekanisme yang terjadi di otak dan pikiran ketika seseorang mengalami rasa nyeri itu terjadi secara bersamaan dan sebanding peranannya dengan rasa nyeri yang pernah kita alami.

Selain itu, pada praktik klinis psikiatri, nyeri merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan. Menariknya, keluhan nyeri ternyata lebih sering ditemukan pada wanita dibandingkan pada pria, dengan puncaknya berkisar pada rentang usia 40-50 tahun. Pada kaum muda, gaya hidup sangat berpengaruh dan keluhan nyeri ini banyak ditemukan pada pekerja kantoran (hmm.. mungkin karena orang kantoran kebanyakan gaya hidupnya sedentary ya?)

Rasa nyeri secara spesifik ternyata banyak ditemukan pada penderita gangguan cemas, depresi, dan penyalahgunaan NAPZA loh!

 

Terus, gimana sih cara untuk mencegah datangnya rasa nyeri?

  • Membatasi aktivitas agar tidak terjadi cedera.
  • Mengatur pola hidup yang sehat: JAGA MAKAN dan RUTIN BEROLAHRAGA agar stamina tetap terjaga
  • Hindari stres berlebih
  • Jika timbul nyeri, segera konsultasikan dengan dokter Anda.

Perlu diingat juga bahwa..

  1. Jika timbul NYERI KRONIK, pahami dan aturlah goal terapi serasional mungkin agar sesuai dengan kondisi Anda.
  2. Tujuan penanganan nyeri kronik umumnya adalah untuk MENURUNKAN rasa nyeri dan mengembalikan fungsi dan kualitas hidup pasien sehari-hari.
  3. Penanganan nyeri kronik melibatkan berbagai disiplin ilmu kedokteran (seperti rehab medik, anestesi, saraf, dan psikiater), sehingga membutuhkan kesabaran dan kerja sama antara dokter dan pasien.

 

 

 

 

*Artikel ini merupakan rangkuman dari Webinar: MENGENAL NYERI yang dibawakan oleh dr. Dharmawan Purnama, SpKJ dan dr. Ferius Soewito, SpKFR.

dr. Dharmawan Purnama, SpKJ - Psikiater
dr. Ferius Soewito, SpKFR - Spesialis Rehab Medik