News

Mengenal “Superhero Syndrome”

Apakah kamu pernah merasa kecapean karena terus-menerus memberi alias over-giving? Yup! Rasanya memang menyenangkan untuk senantiasa terus membantu, memberi, atau mengajarkan hal-hal yang kita ketahui untuk orang lain. Apalagi kalau imbalannya berupa rasa terima kasih, tatapan kagum dari orang sekitar, dan terbukanya pintu kesempatan yang baru bagi kamu. Wah, ga ada tandingannya tuh rasa nikmat dan puasnya.

Memiliki tujuan atau ambisi untuk selalu menjadi yang terbaik memang merupakan suatu hal positif dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Tapi, pernahkah kamu merasa kelelahan, muak atau bahkan jadi merugikan diri sendiri karena terlalu sering memberi? Jika jawabannya iya, mungkin kamu sedang terjebak dalam kondisi yang disebut “Superhero Syndrome”.

 

APA ITU SUPERHERO SYNDROME?

Superhero syndrome merupakan kondisi dimana seorang individu dalam suatu lingkungan (baik dalam lingkungan kerja, keluarga, atau pertemanan) ‘berasumsi’ bahwa dirinya harus bertanggung jawab atas segala sesuatu. Tidak hanya selalu berusaha untuk mengambil alih tanggung jawab atau suatu pekerjaan, individu dengan superhero syndrome ini cenderung menyalahkan diri secara berlebih terutama jika ia melakukan kesalahan (meskipun sangat kecil) atau tidak mencapai ‘kesempurnaan’.

TERUS, MASALAHNYA APA DONG?

Masalahnya, kondisi ini jika terjadi secara terus menerus, maka sudah pasti tidak ideal bagi kesehatan mental individu tersebut. Selain karena alasan ‘nobody’s perfect’, orang-orang dengan superhero syndrome umumnya menjalani keseharian dengan penuh tekanan, mudah stres, dan seringkali menolak atau kesulitan untuk mencari bantuan dan dukungan.

Orang-orang dengan superhero syndrome akan terus memecut dirinya untuk mengambil berbagai tugas dan tanggung jawab serta berusaha menjadi yang terbaik, tanpa kesalahan dan kekurangan. Loh, bukannya bagus ya jadi orang yang ambisius?

Gambar diambil dari BBC.com

Ambisi memang baik kok untuk membantu kamu berkembang, tapi sayangnya, individu dengan superhero syndrome secara tidak sadar telah menempatkan diri dalam kondisi penuh tekanan. Dalam jangka waktu yang lama, mereka akan lebih berisiko mengalami burn out dan ujung-ujungnya hasil pekerjaan mereka menjadi tidak maksimal. Hmm, bukan suatu kondisi yang nyaman ya pastinya?

Di sisi lain, orang-orang yang berada di sekitar individu dengan superhero syndrome akan jadi mudah bergantung padanya, atau bahkan malah mengambil kesempatan dari kondisi itu. Hal ini justru akan menimbulkan lingkaran setan, dimana ia seakan terus menyediakan tempat bagi orang-orang sekitar untuk bergantung pada dirinya, sembari makin memperbesar tekanan pada dirinya sendiri juga. Waduh, pusing ga tuh?

Dalam menyikapi kesalahan dan kegagalan, seharusnya suatu kelompok manusia melihat momen itu sebagai kesempatan berhaga untuk belajar dan mengenali baik kelebihan atau kekurangan dari setiap individu dalam kelompok tersebut. Ketika ada satu individu yang memiliki sindroma ini, tentu pembelajaran akan menjadi terhambat.

BAGAIMANA CARA MENGENALI INDIVIDU DENGAN SUPERHERO SYNDROME DALAM SUATU KELOMPOK?

Nah, ada 5 ciri utama dari superhero syndrome yang cukup mudah untuk dikenali. Kalau ada orang (atau mungkin kamu sendiri) dengan tanda-tanda di bawah ini, maka inilah saatnya untuk berhenti sejenak, mulai introspeksi diri, dan memperbaikinya.

  1. MENG-IYA-KAN SEGALA HAL: Ini mungkin adalah salah satu tanda superhero syndrome yang paling mudah terlihat dalam lingkungan sosialisasi. Kamu seharusnya tidak perlu meng-iya-kan atau setuju akan segala hal. Dalam beberapa hal, kamu boleh kok mengatakan tidak. Bukan untuk mengajarkan kamu jadi orang malas ya dalam bekerja, tapi dalam situasi tertentu, kamu cukup menerima beban kerja yang sesuai dengan kapasitas kamu. Jangan menempatkan diri pada posisi dengan beban berlebih hanya untuk membuat orang lain senang.
  2. SULIT MENGATAKAN ‘TIDAK’ ATAU MENOLAK SESUATU: Memang cenderung lebih mudah untuk meng-iya-kan atau setuju terhadap sesuatu, terutama jika kamu merasa memang itu adalah hal yang sejalan dengan pendapat kamu. Tapi, kamu perlu berhati-hati kalau sudah terlalu banyak setuju atau sulit mengatakan ‘TIDAK’ pada hal-hal yang sebenarnya ingin kamu tolak.
  3. TIDAK BISA MEMPERCAYAI ORANG LAIN UNTUK MELAKUKAN SESUATU: Terkadang kita merasa bahwa memiliki superhero syndrome adalah pilihan yang bisa dengan mudah kita ambil atau kita tolak. Namun, tanpa kita sadari, superhero syndrome tidak muncul karena ada rekan kerja atau pasangan hidup yang lamban atau malas dalam mengerjakan sesuatu. Sindroma ini dapat muncul ketika kamu merasa tidak percaya ada orang lain yang mampu melaksanakan pekerjaan tertentu, sehingga kamu berinisiatif untuk muncul sebagai ‘pahlawan’ yang dapat menyelesaikan segala sesuatu secara mandiri.
  4. BERKOMPETISI DENGAN DIRI SENDIRI: Kalau kamu mulai terus-menerus mengkritik performa kerja dalam menyelesaikan suatu pekerjaan tanpa henti, kemungkinan kamu memang memiliki sindroma pahlawan ini. Terlalu keras mengkritik diri sendiri dapat mengaburkan objektifitas dalam menilai diri sendiri. Oleh karena itu, kamu perlu ingat bahwa pengembangan diri bukanlah sesuatu yang bisa kamu paksakan. Memecut diri menjadi lebih baik tentu adalah hal positif, tetapi ingatlah bahwa kegagalan seringkali adalah guru terbaik bagi kita untuk mencapai kesuksesan.
  5. BERUSAHA MENJADI SEGALA HAL BAGI SEMUA ORANG: Tanda terakhir ini sejalan dengan tindakan meng-iya-kan segala sesuatu yang dilemparkan pada kamu. Orang dengan superhero syndrome suka berusaha untuk menjadi segala hal bagi semua orang, dan berharap dapat menjalani peran tersebut secara sempurna.

Apabila setelah membaca artikel ini kamu atau orang di sekitar kamu ada yang memiliki tanda-tanda seperti ini, kamu bisa mengajaknya untuk berbicara secara terbuka. Namun, jika kamu pun kesulitan untuk membantunya, gapapa kok! Masih ada tenaga kesehatan profesional yang bisa membantu kalian. Ajaklah orang tersayang kamu untuk segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater terdekat agar bisa mendapatkan jalan keluar yang sesuai. Ingat, dalam menolong orang lain, kamu harus menolong diri kamu sendiri terlebih dahulu, superhero itu bisa jadi adalah bentuk propaganda kartun masa kecil kita ya!

 

 

dr. Janet Supit
janetsupit@gmail.com